CNN Indonesia
Sabtu, 21 Mar 2026 18:00 WIB
Ilustrasi. Puasa syawal tak harus dilakukan terburu-buru. (iStock/doidam10)
Jakarta, CNN Indonesia --
Setelah Ramadhan berakhir, umat Islam dianjurkan menjaga semangat ibadah melalui berbagai amalan sunnah. Salah satunya adalah puasa enam hari di bulan Syawal yang dikenal memiliki keutamaan besar.
Meski demikian, masih banyak yang bertanya: apakah puasa Syawal harus dikerjakan selama enam hari berturut-turut?
Pertanyaan ini cukup relevan, terutama di tengah kesibukan silaturahmi usai Idulfitri. Tak sedikit orang yang memulai puasa di awal Syawal, lalu berhenti sejenak, dan melanjutkannya di hari lain hingga genap enam hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, bagaimana sebenarnya ketentuannya?
Tidak harus berturut-turut
Umat Islam dianjurkan melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal setelah menunaikan puasa Ramadan. Keutamaan amalan ini dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya: "Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan, kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan besarnya keutamaan puasa Syawal. Namun, tidak ada keterangan yang mewajibkan pelaksanaannya secara berturut-turut.
Artinya, puasa enam hari itu dapat dilakukan secara fleksibel, selama masih berada dalam bulan Syawal.
Lebih utama jika berurutan
Meski tidak wajib berurutan, sebagian ulama menganjurkan agar puasa Syawal dilakukan secara berturut-turut. Salah satunya dijelaskan oleh Imam Yahya bin Abil Khair Al-Umrani:
يُسْتَحَبُّ لِمَنْ صَامَ رَمَضَانَ أَنْ يَتَّبِعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ، وَالْمُسْتَحَبُّ أَنْ يَصُوْمَهَا مُتَتَابِعَةً، فَإِنْ صَامَهَا مُتَفَرِّقَةً جَازَ
Artinya: "Disunnahkan bagi orang yang berpuasa Ramadan untuk melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal. Yang lebih dianjurkan adalah dilakukan berturut-turut, namun jika dipisah-pisah tetap diperbolehkan."
Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa puasa Syawal boleh dilakukan dengan dua cara, yaitu berurutan atau terpisah. Keduanya sah dan tetap berpahala.
Namun, melaksanakannya secara berurutan setelah Idulfitri dinilai lebih utama karena mencerminkan semangat menyegerakan ibadah dan menjaga kesinambungan amal.
Niat puasa Syawal
Dalam setiap ibadah, niat menjadi unsur penting. Secara umum, niat cukup dihadirkan dalam hati. Namun, melafalkannya dapat membantu menghadirkan kekhusyukan.
Berikut bacaan niat puasa sunnah Syawal:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin 'an sittatin min Syawwalin sunnatan lillahi ta'ala.
Artinya: "Aku berniat puasa besok dari enam hari Syawal, sunnah karena Allah Ta'ala."
Niat sebaiknya dilakukan sebelum terbit fajar sebagai bentuk kesiapan menjalankan ibadah puasa sunnah.
Tujuan puasa Syawal adalah menyempurnakan ibadah Ramadan sekaligus menjaga konsistensi ketakwaan.
Dengan demikian, puasa Syawal tidak harus dilakukan berturut-turut. Namun, jika mampu melaksanakannya secara berurutan, hal itu lebih utama. Yang terpenting adalah menjaga keikhlasan, niat yang benar, serta konsistensi dalam beribadah kepada Allah SWT.
(gas/tis)
Add
as a preferred source on Google

1 hour ago
1





























