Jakarta, CNN Indonesia --
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menjadi sorotan karena kondisinya yang disebut kian kritis imbas serangan Amerika Serikat dan Israel.
Dia mengalami cedera serius dan dilaporkan dirawat di rumah sakit. Sempat beredar, Mojtaba dirawat di Moskow, Rusia, tetapi pejabat Iran membantahnya.
Dalam laporan terbaru The Time, Mojtaba dalam kondisi kritis dan sedang menjalani perawatan di Qom. Laporan ini berdasarkan memo diplomatik yang didapat dari intelijen Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlepas dari itu, siapa sebetulnya Mojtaba Khamenei?
Jadi pemimpin tertinggi Iran
Mojtaba lahir pada 8 September di Kota suci Mashhad dan salah satu dari enam anak Ali Khamenei.
Dia naik ke tampuk kekuasaan usai ayahnya tewas dalam serangan brutal AS-Israel pada 28 Februari. Kemudian pada 9 Maret, Iran -melalui mekanisme konstitusi mereka- menunjuk dia sebagai pemimpin tertinggi negara tersebut.
Namun, sejak ditunjuk jadi pemimpin Iran, Mojtaba tak pernah tampil di hadapan publik secara langsung bahkan saat pejabat dan rakyatnya menyampaikan sumpah setia. Situasi ini mengindikasikan luka yang dia alami sangat serius.
Beberapa hari setelah terpilih menjadi pemimpin Iran, dia mengeluarkan pernyatan resmi yang menentang dan siap membalas perbuatan Amerika Serikat serta Israel.
Namun, saat itu, Mojtaba tak tampil di publik. Pernyataan hanya dibacakan presenter media pemerintah Iran dan pernyataan tertulis diunggah di akun media sosialnya.
Mojtaba sedang dalam keadaan terluka, dan dia harus memimpin Iran yang juga ikut terluka imbas operasi brutal Amerika Serikat dan Israel.
Namun, kondisi ini tak membuat Iran patah arang, mereka terus meluncurkan serangan balasan yang masif ke aset AS di negara Teluk dan Israel.
Sosok tertutup
Selama ini, Mojtaba dikenal sebagai pribadi yang sangat tertutup bahkan di acara resmi dan di depan media. Dia juga dianggap ulama kelas menengah, tetapi sudah lama digadang-gadang sebagai penerus ayahnya.
Mojtaba juga dipandang dekat dengan kalangan konservatif, terutama karena hubungan dia dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Relasi ini bermula dari pengabdian dirinya di unit tempur saat perang Iran-Irak pada 1980-1988.
Meski tak punya jabatan resmi dan jarang muncul di publik, para pengkritik menuduh Mojtaba berperan dalam penindasan keras terhadap demonstrasi usai Mahmoud Ahmadinejad terpilih kembali menjadi presiden pada 2009.
Menurut penyelidikan serta laporan badan intelijen Barat, Mojtaba disebut telah mengumpulkan kekayaan hingga lebih dari US$100 juta dolar termasuk dari penjualan minyak.
Dana dari penjualan minyak lalu dialihkan ke investasi properti mewah di Inggris, hotel di Eropa, dan properti di Dubai melalui perusahaan cangkang di negara suaka pajak.
Di bidang keagamaan, Mojtaba mempelajari teologi di kota suci Qom, di selatan Teheran, tempat dia pernah mengajar.
Ia mencapai tingkat Hujjat al-Islam, gelar bagi ulama tingkat menengah, di bawah tingkat Ayatollah yang dimiliki ayahnya dan pemimpin revolusi Ruhollah Khomeini.
Masuk radar AS
Nama Mojtaba Khamenei juga sebetulnya sudah dikenal dan masuk dalam radar Amerika Serikat.
Pada 2019, di periode pertama kepemimpinan Donald Trump, Kementerian Keuangan AS menjatuhkan sanksi ke Mojtabad dengan alasan mewakili pemimpin tertinggi, meski tidak pernah dipilih atau diangkat dalam posisi pemerintahan. Namun, dia bekerja di kantor ayahnya.
"[Khamenei] telah mendelegasikan sebagian tanggung jawab kepemimpinannya kepada putranya, yang bekerja sangat dekat dengan aparat keamanan Iran," demikian pernyataan Kemenkeu AS.
(isa/bac)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
2
























