Jakarta, CNN Indonesia --
Tepat 50 tahun lalu, sebuah revolusi teknologi dimulai dari sebuah garasi sempit di California. Apple, yang kini menjadi kiblat gaya hidup digital global, merayakan setengah abad perjalanannya sejak didirikan pada April 1976.
Berawal dari ambisi Steve Jobs, Steve Wozniak, dan Ron Wayne, Apple lahir dengan keyakinan radikal, yakni teknologi harus bersifat personal. Gagasan yang awalnya dipandang sebelah mata ini terbukti berhasil mengubah cara manusia berkomunikasi, bekerja, dan bermain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lima kali mereka menolak ide komputer pribadi saya. Saya ingin Hewlett-Packard yang mengembangkannya. Saya sangat mencintai perusahaan saya, tapi kini Steve Jobs dan saya harus memulai bisnis sendiri," kata Wozniak, mengutip LATimes, Selasa (31/3).
Selama lima dekade, Apple berkembang pesat dari pembuat komputer sederhana menjadi raksasa teknologi global. Produk-produknya mulai dari Mac, iPod, iPhone, iPad, hingga Apple Watch dan AirPods serta layanan seperti App Store, Apple Music, Apple Pay, iCloud, dan Apple TV, telah digunakan miliaran orang di seluruh dunia.
Perusahaan bermarkas di Cupertino, California ini sekarang mempekerjakan sekitar 166.000 orang dan memiliki lebih dari 2,5 miliar perangkat aktif secara global.
Dengan nilai pasar melampaui US$3,5 triliun atau sekitar Rp59,35 kuadriliun (asumsi kurs Rp17.010 per dollar AS), Apple menjadi salah satu perusahaan paling berharga di dunia.
"Apple bukan sekadar perusahaan teknologi. Perusahaan ini benar-benar merupakan ikon budaya," kata Jacob Bourne, analis teknologi di eMarketer.
Loyalitas pengguna Apple bukan tanpa alasan. Ia menilai, desain produk yang kuat serta kemampuannya mengaburkan batas antara pekerjaan dan hiburan telah menciptakan ikatan emosional dengan pengguna.
Komputer Apple-1 buatan Steve Jobs dan Steve Wozniak menjadi bukti awal keberhasilan Apple. (Foto: REUTERS/Eduardo Munoz)
Meski kini berada di puncak, perjalanan Apple tidak selalu mulus. Pada 1990-an, perusahaan sempat berada di ambang kebangkrutan dan melakukan pemutusan hubungan kerja besar-besaran.
Kondisi itu berubah setelah Jobs kembali memimpin perusahaan yang ia dirikan.
Namun, Apple kembali diuji setelah Jobs meninggal dunia pada 2011 akibat kanker pankreas di usia 56 tahun. Ketidakpastian sempat menyelimuti masa depan perusahaan.
Terobosan besar seperti peluncuran iPhone pada 2007 menjadi titik balik perusahaan. Produk tersebut mengungguli pesaing seperti BlackBerry dan memicu era smartphone modern.
"Apple selalu mengikuti perkembangannya. Apple selalu fleksibel," kata Wozniak.
"Sekarang kita punya begitu banyak pilihan, mulai dari perangkat Surface hingga perangkat lain, AirPods, dan sebagainya," lanjutnya.
Kunci kesuksesan Apple adalah kemampuan menjaga kualitas dan citra merek. "Apple tidak memproduksi barang murahan yang mudah rusak," ujarnya.
Terobosan besar seperti peluncuran iPhone pada 2007 menjadi titik balik perusahaan. Produk tersebut mengungguli pesaing seperti BlackBerry dan memicu era smartphone modern. (Foto: Getty Images/David Paul Morris)
Di bawah kepemimpinan CEO Tim Cook, Apple juga merambah industri hiburan melalui layanan streaming Apple TV+, yang menghadirkan serial populer seperti "Severance," "The Morning Show," dan "Ted Lasso".
Pada 2022, Apple bahkan menjadi layanan streaming pertama yang memenangkan Oscar untuk Film Terbaik lewat "CODA."
"Di balik setiap terobosan, ada satu gagasan yang menjadi pedoman bagi kami - bahwa dunia terus maju berkat orang-orang yang berpikir berbeda," ujar Cook dalam surat terbuka peringatan 50 tahun, menegaskan filosofi yang terus dipegang perusahaan.
Meski demikian, tantangan baru kini muncul, terutama dalam persaingan teknologi kecerdasan buatan (AI). Dalam sektor ini, Apple masih tertinggal dari sejumlah pesaing.
Di sisi lain, muncul pula kekhawatiran terkait dampak teknologi, seperti kecanduan ponsel hingga maraknya konten deepfake.
"Dunia ini dikendalikan oleh orang-orang yang ingin menjual barang," kata Wozniak.
"Mereka tidak akan membiarkan kita lepas dari itu," sambungnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, analis menilai Apple masih berada dalam posisi kuat untuk bertahan dan terus berkembang.
"Saya melihat Apple mampu mengatasi tekanan saat ini, setidaknya untuk beberapa waktu ke depan," kata Bourne.
(wpj/dmi)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
1
























