Jakarta, CNN Indonesia --
Adira Finance mencatatkan kinerja positif pada kuartal I 2026 dengan laba bersih tumbuh 26 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp484 miliar di tengah tekanan ekonomi global.
Direktur Utama Adira Finance Dewa Made Susila mengatakan capaian tersebut ditopang pertumbuhan pembiayaan yang kuat di seluruh segmen bisnis.
"Capaian ini mencerminkan efektivitas strategi Perseroan dalam menangkap peluang pasar secara selektif dengan fokus berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (29/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang tiga bulan pertama 2026, pembiayaan baru Adira Finance tumbuh signifikan sebesar 52 persen (yoy) menjadi Rp11,9 triliun. Sejalan dengan itu, piutang pembiayaan yang dikelola perusahaan meningkat 18 persen (yoy) menjadi Rp64,7 triliun.
Jumlah pelanggan aktif juga naik dari 2 juta pada 2025 menjadi 2,6 juta nasabah pada 2026, didukung jaringan operasional yang mencapai 879 cabang dan unit usaha di seluruh Indonesia.
Dari sisi pendapatan, perusahaan membukukan total pendapatan sebesar Rp3,2 triliun atau naik 7 persen (yoy). Sementara itu, beban penyisihan penurunan nilai turun 7 persen menjadi sekitar Rp635 miliar, mencerminkan kualitas aset yang tetap terjaga.
Direktur Keuangan Adira Finance Sylvanus Gani Mendrofa menilai kinerja tersebut menunjukkan keseimbangan antara ekspansi bisnis dan pengelolaan risiko.
"Kinerja ini mencerminkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan pengelolaan risiko yang prudent, sehingga mampu mendorong peningkatan profitabilitas dengan kualitas aset yang tetap terjaga," katanya.
Hal itu tercermin dari rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) gross konsolidasian yang menurun menjadi 1,9 persen pada Maret 2026, dibandingkan 2,3 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, perusahaan juga menghadapi tekanan dari kondisi global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak serta gangguan rantai pasok turut membayangi awal tahun ini.
Mengacu pada proyeksi International Monetary Fund (IMF), pertumbuhan ekonomi global 2026 direvisi turun menjadi 3,1 persen dari sebelumnya 3,3 persen. Meski demikian, ekonomi Indonesia diperkirakan masih mampu tumbuh sekitar 5,5 persen ditopang permintaan domestik.
Ke depan, Adira Finance menyatakan akan menjaga momentum pertumbuhan melalui penguatan kualitas portofolio, peningkatan produktivitas, serta disiplin biaya guna mempertahankan profitabilitas di tengah dinamika ekonomi.
(lau/ins)
Add
as a preferred source on Google

18 minutes ago
4



















