Kenapa Iran Bisa Ekspor Minyak Jutaan Barel Meski Selat Hormuz Lumpuh?

5 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Iran masih bisa mengekspor jutaan barel minyak meski lalu lintas di Selat Hormuz terganggu akibat konflik di Timur Tengah selama dua pekan terakhir.

Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia mengalami gangguan serius sejak pecahnya konflik.

Sejumlah kapal tanker dilaporkan terkena serangan drone dan senjata lainnya, sehingga banyak aktivitas pelayaran energi dari negara Teluk terhambat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun di tengah situasi tersebut, Iran justru masih bisa mengirim minyak dalam jumlah besar, mendekati volume sebelum perang. Data pelacakan tanker dan citra satelit menunjukkan ekspor minyak Iran tetap berjalan melalui jalur yang sama.

Perusahaan analitik energi Kpler memperkirakan Iran telah mengekspor sekitar 12 juta barel minyak sejak konflik dimulai pada 28 Februari, sementara TankerTrackers bahkan mencatat angka lebih tinggi, yakni 13,7 juta barel hingga pertengahan pekan lalu.

Angka ini setara sekitar 1 juta barel per hari, tidak jauh dari rata-rata ekspor tahun lalu yang mencapai 1,69 juta barel per hari.

Salah satu faktor utama yang membuat ekspor tetap berjalan adalah karena infrastruktur minyak Iran tidak menjadi target utama serangan. Meski fasilitas militer diserang, kilang, pipa, dan tangki penyimpanan minyak sebagian besar tetap utuh.

Terminal utama ekspor minyak Iran di Pulau Kharg, yang menjadi titik pengiriman utama, juga masih beroperasi.

Citra satelit menunjukkan seluruh tangki penyimpanan di Pulau Kharg masih dalam kondisi baik, bahkan beberapa tanker masih memuat jutaan barel minyak di tengah konflik.

Selain itu, Iran sudah lebih dulu memiliki cadangan minyak dalam jumlah besar di laut sebelum perang dimulai. Perusahaan data energi Vortexa memperkirakan sekitar 170 juta barel minyak Iran telah berada di kapal tanker sejak Januari, menunggu pembeli.

Artinya, sebagian ekspor tidak bergantung pada kondisi terbaru di Selat Hormuz.

Iran juga diduga mengantisipasi konflik dengan meningkatkan ekspor sejak Februari. Volume pengiriman dari Pulau Kharg tercatat naik hingga sekitar 2,04 juta barel per hari, lebih tinggi dibanding rata-rata tahun sebelumnya.

Di sisi lain, pengawasan terhadap kapal Iran juga tidak sepenuhnya ketat. Kapal tanker Iran kerap mematikan alat pelacak lokasi (transponder) untuk menghindari sanksi, sehingga pergerakannya lebih sulit dipantau.

Faktor geopolitik juga berperan. Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan tidak secara langsung menghentikan kapal tanker Iran, meski telah menyerang sebagian kekuatan militernya.

Selain itu, Iran menggunakan kendali atas Selat Hormuz sebagai alat tawar dalam hubungan dengan negara lain.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan jalur tersebut tetap terbuka, namun dibatasi untuk kapal dari negara yang dianggap sebagai lawan.

"Selat Hormuz terbuka, tetapi tidak untuk kapal milik musuh," ujarnya, melansir CNN.

Sejumlah negara seperti India bahkan melakukan negosiasi agar kapalnya tetap bisa melintas. Dalam beberapa kasus, kapal tanker Iran yang sempat ditahan juga dilepas sebagai bagian dari kesepakatan agar jalur pelayaran tetap terbuka.

Iran juga dilaporkan mempertimbangkan transaksi minyak menggunakan mata uang selain dolar, seperti yuan China, sebagai bagian dari strategi menjaga ekspor tetap berjalan di tengah tekanan sanksi.

Meski demikian, dalam jangka panjang Iran tetap bergantung pada Selat Hormuz. Jalur alternatif ekspor melalui darat sangat terbatas dibandingkan negara lain seperti Arab Saudi atau Uni Emirat Arab yang memiliki pelabuhan di luar Teluk Persia.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial