LAPORAN DARI PARIS
Fandi Stuerz | CNN Indonesia
Selasa, 17 Mar 2026 06:45 WIB
Energi dan gairah anyar Chanel terlihat jelas pada koleksi teranyar karya Matthieu Blazy yang dipamerkan di Paris Fashion Week, Senin (9/3) lalu. (REUTERS/Stephane Mahe)
Jakarta, CNN Indonesia --
Chanel yang sekarang boleh jadi berbeda dengan Chanel yang sebelumnya. Di tangan sang direktur kreatif Matthieu Blazy, Chanel kembali menggairahkan.
Chanel seolah kembali pada era sosok ikonik Karl Lagerfeld. Kala koleksi-koleksinya selalu masuk dalam diskursus publik tentang banyak hal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Energi baru Chanel terlihat jelas pada koleksi terbaru Blazy, yang ditampilkan pada Paris Fashion Week di Grand Palais, Senin (9/3) lalu.
Kala itu, show dibuka oleh model Stephanie Cavalli yang mengenakan setelan rajut hitam sederhana: rok ribbed dengan ritsleting samping dan jaket tanpa kerah berkancing emas. Siluetnya langsung dikenal sebagai Chanel: bersih, tajam, elegan, tapi materialnya begitu kontemporer.
Jaket Chanel klasik dengan bahu tegas muncul berdampingan dengan interpretasi baru. Tengok saja bomber jacket dan siluet-siluet lain yang lebih santai. Drop waist yang dulu membebaskan perempuan dari korset kini diturunkan lebih jauh hingga mendekati bagian atas paha.
Tweed boucle yang menjadi signature Chanel juga direinventasi secara radikal. Tweed berlapis karet dengan percikan cat, misalnya, yang tampang seperti lukisan Sterling Ruby.
Ada juga tweed yang tampak tererosi hingga memperlihatkan lapisan hitam di dalamnya. Lalu, ada tweed yang dirajut dengan manik-manik mother-of-pearl, atau dicetak pada sutera dan chain mail sehingga menciptakan ilusi trompe-l'oeil.
Teknik-teknik ini terlihat kompleks. Sebagian bahkan memerlukan waktu pengembangan hingga satu tahun. Namun, hasilnya terasa lebih ringan dan mudah dipakai.
Blazy juga memperkenalkan sepatu anyar. Sebuah mule melengkung yang tampak seperti evolusi dari pump spectator dengan ujung mint green dari koleksi debutnya.
Meski tidak terasa literal dari karya Lagerfeld, semua elemen ini langsung dikenali sebagai Chanel. Referensi Blazy sering kali berasal dari periode yang lebih jarang dibicarakan dalam sejarah Chanel, seperti tahun 1920-an dan 1960-an.
Pendekatan tersebut menciptakan efek 'ytta' alias 'yang tahu-tahu aja'. Terasa akrab bagi mereka yang memahami sejarah Chanel, tetapi tetap segar bagi generasi baru.
Chanel memamerkan koleksi teranyarnya di panggung Paris Fashion Week. (REUTERS/Stephane Mahe)
Karya-karya Blazy bersama Chanel jelas terlihat jauh berbeda dari direktur kreatif sebelumnya, Virginie Viard. Meski dianggap sebagai sosok yang memahami DNA Chanel dengan sangat baik, tapi secara kreatif, karya-karyanya dinilai terlalu aman. Tak ada lagi 'peristiwa budaya' yang dulu selalu menyertai setiap show.
Set panggung di Grand Palais juga memperkuat gagasan ini. Struktur crane berwarna merah, hijau, kuning, dan biru berdiri tengah ruang seperti proyek konstruksi raksasa. Ini terlihat seperti metafora yang menandakan bahwa Chanel tengah membangun masa depannya.
Dalam shownote-nya, Blazy menyebut Chanel sebagai perpaduan antara 'function and fiction'. Pakaian yang membebaskan perempuan untuk bergerak dan bekerja, tapi juga menjadi alat ekspresi, seduksi, dan penciptaan identitas.
Paradoks inilah yang sejak awal mendefinisikan Chanel. Blazy tampaknya memahami paradoks tersebut dengan sangat baik.
Lagerfeld dulu menghidupkan Chanel dengan ironi dan permainan ikonografi pop. Sementara Blazy mengurangi sinisme dan kitch, lalu menggantinya dengan sense of discovery serta keintiman.
Dengan ini, Chanel seolah kembali menjadi tempat eksplorasi. Mengajak para pecinta fesyen untuk mengenal kembali filosofi rumah mode ini.
(asr/asr)
Add
as a preferred source on Google

19 hours ago
2



















