Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia Jusuf Kalla (JK) menjawab langsung laporan Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) soal tuduhan penistaan agama Kristen.
JK meluruskan pernyataannya terkait konflik di Posi dan Maluku ketika ia menyampaikan ceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia kemudian menyinggung Ketua Persatuan Gereja Indonesia (PGI) Pendeta Jacky Manuputty tentang konflik di wilayah itu yang mengatasnamakan agama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah yang paling paling mengetahui keadaan justru ketua PGI, Persekutuan Gereja Indonesia (Pdt. Jacky Manuputty), dulu ketua sinode di Maluku," ia melanjutkan penjelasannya kemudian memperlihatkan video lain soal konflik.
Ia kemudian menyinggung pihak-pihak yang sengaja menebar fitnah terhadapnya terkait pernyataannya tentang konflik Maluku dan Posisi sehingga berujung pada laporan GAMKI.
"Ini lah suasana yang tidak ada di media, lebih kejam lagi. Lebih parah lagi, orang-orang yang memfitmah saya. Pernah ga ada di situ? Saya ada di situ. Hamid (Awaluddin) ada di situ, Uceng (juru bicara JK Husain Abdullah) sebagai wartawan waktu itu pergi melihat," kata JK.
Sebelumnya Ketua Umum PGI Pdt. Jacky Manuputty berpendapat pernyataan Jusuf Kalla yang menyinggung konflik Poso dan Ambon sebagai contoh agama menjadi dalih yang mudah digunakan membenarkan kekerasan tak sepenuhnya keliru.
Pernyataan Jusuf Kalla dalam public lecture di UGM pada 5 Maret 2026 itu dilaporkan ke pihak kepolisian atas dugaan penistaan ajaran Kristen. Pelaporan itu dilayangkan DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan sejumlah organisasi lain.
"Pernyataan ini, jika dibaca dalam konteks sejarah konflik Poso dan Maluku, tidak sepenuhnya keliru. Kita tidak dapat menutup mata bahwa pada masa itu agama memang tampil dengan wajah yang terdistorsi," kata Jacky dalam keterangannya, dikutip Rabu (15/4).
Jacky yang juga anggota delegasi Kristen pada perjanjian Malino II untuk rekonsiliasi konflik Maluku mengaku mengalami langsung dinamika konflik itu.
Ia menyaksikan langsung bagaimana legitimasi religius, doa, kidung rohani, hingga pemberkatan tokoh agama sering menjadi prasyarat sebelum kombatan turun ke medan konflik.
(yoa/bac)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
3

























