Jarang Disadari, 5 Kebiasaan Ini Bisa Bikin Rambut Kutuan

3 hours ago 1

CNN Indonesia

Senin, 06 Apr 2026 06:00 WIB

Meski sering dikaitkan dengan kebersihan, faktanya kehadiran kutu di rambut lebih dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari. Ilustrasi. Meski sering dikaitkan dengan kebersihan, faktanya kehadiran kutu di rambut lebih dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari. (iStockphoto/VladimirFLoyd)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Kutu rambut masih menjadi masalah umum yang kerap terjadi, terutama pada anak-anak usia sekolah. Meski sering dikaitkan dengan kebersihan, faktanya kehadiran kutu lebih dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari memudahkan penyebarannya.

Mengutip dari Mayo Clinic, kutu rambut tidak bisa melompat atau terbang. Kutu rambut sering menyebar lewat interaksi langsung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam beberapa kasus, kebiasaan kecil yang dianggap sepele justru menjadi pemicu utama penularan.

Merangkum berbagai sumber, berikut sejumlah kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko rambut berkutu, sekaligus cara mencegahnya.

1. Saling berbagi barang pribadi

Kebiasaan meminjam atau berbagi barang seperti sisir, topi, hingga aksesoris rambut menjadi salah satu jalur penularan kutu yang paling umum.

Kutu dapat dengan mudah berpindah dari satu orang ke orang lain melalui benda yang bersentuhan langsung dengan rambut.

Oleh karena itu, penting untuk membiasakan setiap anggota keluarga menggunakan perlengkapan pribadi masing-masing.

Pada situasi tertentu seperti kegiatan olahraga atau sekolah, pastikan barang yang digunakan bersama telah dibersihkan terlebih dahulu untuk meminimalkan risiko penularan.

2. Kontak kepala yang terlalu dekat

Kutu tidak bisa terbang atau melompat, tetapi mereka dapat merayap dengan cepat melalui kontak langsung antar-rambut.

Aktivitas seperti bermain, berpelukan, atau berfoto dengan posisi kepala saling menempel dapat meningkatkan risiko penularan.

Meski sulit dihindari sepenuhnya, terutama pada anak-anak, menjaga jarak saat berinteraksi bisa menjadi langkah sederhana yang efektif. Edukasi tentang batas ruang pribadi juga penting untuk mengurangi kontak yang tidak perlu.

3. Jarang memeriksa rambut dan kulit kepala

Banyak orang tidak menyadari adanya kutu hingga jumlahnya sudah cukup banyak. Kurangnya pemeriksaan rutin membuat investasi berkembang tanpa terdeteksi, sehingga lebih mudah menyebar ke orang lain.

Pemeriksaan rambut secara berkala, terutama setelah anak beraktivitas di sekolah atau tempat umum, sangat dianjurkan. Menggunakan sisir serit (sisir bergigi rapat) dapat membantu mendeteksi keberadaan kutu maupun telurnya sejak dini.

Rasa gatal di kulit kepala sering kali dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda awal investasi kutu. Menunda penanganan hanya akan memperparah kondisi dan meningkatkan risiko penularan ke orang lain di sekitar.

Penanganan sebaiknya dilakukan segera setelah tanda-tanda muncul, baik dengan metode perawatan di rumah maupun bantuan tenaga profesional. Semakin cepat ditangani, semakin kecil kemungkinan kutu berkembang dan menyebar.

5. Kurang menjaga kebersihan barang yang sering digunakan

Selain barang pribadi, benda seperti bantal, seprai, hingga helm juga bisa menjadi media tidak langsung penyebaran kutu jika tidak dibersihkan secara rutin. Kutu memang tidak bertahan lama di luar kulit kepala, tetapi telur kutu bisa menempel pada serat kain.

Mencuci perlengkapan tersebut secara berkala dengan air panas dapat membantu membunuh kutu dan telurnya. Kebiasaan ini penting, terutama jika ada anggota keluarga yang sedang mengalami kutuan.

Rambut berkutu bukan sekadar masalah kebersihan, melainkan juga soal kebiasaan dan interaksi sehari-hari. Dengan mengenali faktor risiko sejak awal, langkah pencegahan bisa dilakukan lebih efektif.

(nga/asr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial