Harga Minyak Naik Tipis ke US$104 Meski Ada Sinyal Negosiasi AS-Iran

3 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (1/4), melanjutkan reli tajam sepanjang Maret yang mencatat kenaikan bulanan tertinggi dalam sejarah, di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kontrak minyak mentah Brent pengiriman Juni naik 0,63 persen menjadi US$104,63 per barel. Sepanjang Maret, harga Brent melonjak hingga 64 persen, berdasarkan data LSEG sejak 1988.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Mei naik 0,95 persen ke level US$102,34 per barel. Adapun kontrak WTI Juni juga menguat 0,49 persen menjadi US$93,62 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenaikan harga minyak ini didorong kekhawatiran pasar terhadap pasokan global akibat konflik di Timur Tengah, meski terdapat sinyal diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang.

Analis LSEG menyebut risiko pasokan masih tinggi karena belum adanya kemajuan signifikan dalam jalur diplomasi, serta berlanjutnya serangan maritim dan ancaman terhadap aset energi.

"Risiko terhadap pasokan tetap condong meningkat, didorong minimnya progres nyata diplomatik, serangan laut yang berlanjut, serta ancaman terhadap infrastruktur energi," tulis analis dalam catatannya melansir Reuters, Rabu (1/4).

Harga minyak sempat terkoreksi pada Selasa (31/3) setelah muncul laporan media yang belum terkonfirmasi terkait kesiapan Iran untuk mengakhiri konflik. Namun, harga kembali pulih seiring ketidakpastian yang masih membayangi pasar.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan operasi militer dapat berakhir dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Meski demikian, analis menilai kerusakan infrastruktur akibat perang berpotensi tetap menahan pasokan minyak global.

Selain itu, Selat Hormuz sebagai jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan LNG dunia masih belum sepenuhnya beroperasi. Penutupan jalur ini turut menekan pasokan global.

Survei Reuters menunjukkan produksi minyak negara-negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) turun hingga 7,3 juta barel per hari pada Maret dibanding bulan sebelumnya, imbas pembatasan ekspor akibat gangguan distribusi.

Kondisi tersebut mendorong analis merevisi naik proyeksi harga minyak tahunan. Dalam survei terbaru Reuters, harga Brent diperkirakan rata-rata mencapai US$82,85 per barel pada 2026, naik sekitar 30 persen dari proyeksi Februari sebesar US$63,85.

Kenaikan proyeksi sebesar US$19 per barel ini menjadi lonjakan tertinggi dalam data survei bulanan Reuters sejak 2005, mencerminkan dampak signifikan konflik Timur Tengah terhadap pasar energi global.

[Gambas:Video CNN]

(lau/pta)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial