Jakarta, CNN Indonesia --
Teror penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus masih diselimuti misteri.
Kasus ini telah naik ke tahap penyidikan karena ditemukan dugaan pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 467 ayat 2 dan atau Pasal 468 ayat 1 KUHP.
Dalam proses penyidikan, polisi telah memeriksa tujuh orang saksi, mengumpulkan barang bukti dan menganalisa 86 rekaman CCTV di berbagai lokasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CNNIndonesia.com telah merangkum sejumlah fakta terbaru terkait aksi penyiraman tersebut, sebagai berikut
Diduga dilakukan 4 orang
Berdasarkan analisa CCTV, polisi menyebut aksi penyiraman tersebut diduga dilakukan oleh empat orang. Dari rekaman CCTV itu terlihat keempat terduga pelaku itu tengah menunggu korban di depan KFC Cikini, Jakarta Pusat.
"Diduga empat orang terduga pelaku yang menggunakan dua sepeda motor menunggu korban di depan KFC Cikini," kata Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin dalam konferensi pers, Senin (16/3).
Dari lokasi itu, para pelaku kemudian membuntuti korban menuju ke Jalan Diponegoro. Lalu berlanjut ke Jalan Salemba 1 dan terjadilah aksi penyiraman air keras terhadap korban.
Kendati demikian, polisi belum melakukan penangkapan terhadap para pelaku. Kata Iman, pihaknya masih mengumpulkan barang bukti.
Selain itu, polisi juga masih menunggu uji laboratorium forensik terhadap barang bukti yang telah ditemukan dan disita penyidik. Barang bukti itu di antaranya helm yang diduga digunakan pelaku dan wadah yang diduga digunakan untuk menyimpan air keras.
"Kami sangat berharap nanti hasil dari uji laboratorium forensik tersebut, mudah-mudahan ditemukan sidik jari dari pelaku, kemudian juga DNA dari pelaku yang menempel di helm yang bersangkutan. Jadi, tersangka atau pelaku kami sampaikan kami belum melakukan upaya paksa," ucap Iman.
Kumpul di Gambir
Masih berdasarkan CCTV, aksi teror itu bermula saat keempat terduga pelaku berangkat dari kawasan Jakarta Selatan. Setelahnya, para pelaku berkumpul terlebih dahulu di Jalan Medan Merdeka Timur atau di depan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat.
Pada sore harinya, pelaku terekam mulai bergerak menuju Jalan Medan Merdeka Barat. Mereka kemudian sempat berputar-putar di kawasan Tugu Tani.
Iman menyebut proses pengintaian kemudian berlanjut ketika para pelaku menuju kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Para pelaku kemudian menunggu korban hingga korban pulang dan menuju SPBU Cikini.
"Ketika korban selesai acara di YLBHI, korban ini tidak langsung menuju ke tempat kejadian perkara namun sempat mengisi bahan bakar dulu di SPBU Cikini Raya, dan itu diikuti oleh pelaku," ucap Iman.
Iman menjelaskan para pelaku juga terekam CCTV yang ada di kawasan SPBU pada saat membuntuti Andrie Yunus sekitar pukul 23.32 hingga 23.35 WIB.
Setelahnya, keempat pelaku menunggu korban di depan KFC Cikini dengan dua sepeda motor yang berbeda. Setelah korban mengisi bensin, pelaku langsung bergerak menuju Jalan Diponegoro sebelum berbelok ke arah Jalan Salemba 1 yang menjadi lokasi penyiraman air keras.
"Saat kejadian pada pukul 23:37 hari Kamis tanggal 12 Maret 2026 di Jalan Salemba 1 persimpangan Jalan Talang, wilayah Jakarta Pusat," tutur Iman.
Kabur ke Kalibata hingga Bogor
Keempat pelaku juga terekam CCTV langsung kabur ke lokasi berbeda usai melakukan aksinya. Dalam aksi tersebut keempat terduga pelaku itu menggunakan dua sepeda motor berbeda.
"Pasca kejadian juga tim kami melakukan penelusuran terhadap para terduga pelaku melakukan pelarian ke arah yang berbeda dari dua tim," kata Iman.
Iman membeberkan dari dua motor itu, satu di antaranya langsung kabur dari lokasi kejadian dengan melawan arus di Jalan Salemba Raya menuju Senen. Kemudian, dari Senen langsung bergerak ke Jalan Kramat Raya dan menuju ke Tugu Tani.
Selanjutnya, dari Tugu Tani mereka bergerak ke arah Stasiun Gondangdia. Lalu, dari Stasiun Gondangdia, para pelaku menuju wilayah Jakarta Selatan.
Sementara satu motor lainnya, dari lokasi kejadian mereka langsung kabur menuju ke Jalan Pramuka Sari 2 menuju ke Matraman. Dari sana, pelaku terekam menuju wilayah Jatinegara dan selanjutnya ke Jalan Otto Iskandardinata, Jakarta Timur.
Masih berdasarkan rekaman CCTV, Iman menyebut salah satu pelaku terlihat sempat mengganti pakaian di tengah upaya pelarian tersebut.
"Dari rekaman CCTV tersebut yang kami padukan dengan pengolahan digital terhadap alat komunikasi, setelah kejadian salah satu pelaku diduga mengganti pakaian sebelum melanjutkan perjalanan dalam pelariannya. Dan hasil analisa alat komunikasi menunjukkan para pelaku selanjutnya berpencar ke wilayah Kalibata, Ragunan, dan wilayah Bogor," tutur Iman.
Pelaku diduga terlatih
Dari hasil penyidikan sementara, polisi menduga pelaku penyiraman air keras kepada Andrie sudah terlatih. Sebab, saat beraksi, para pelaku sangat tenang dan tidak ada kepanikan.
"Apakah jaringannya sudah terlatih? Selama beberapa hari kami melakukan analisa digital, kami melihat perjalanan para pelaku ini memang memiliki ketenangan," ucap Iman.
"Dalam melakukan apa perjalanan dari mulai satu titik ke titik yang lain pada saat menjelang-menjelang kejadian," imbuhnya.
Iman menambahkan para pelaku juga tidak panik setelah melakukan penyiraman air keras ke korban dan langsung kabur sesuai rute pelariannya masing-masing.
"Kemudian pasca kejadian mereka dari dua motor ini masing-masing dengan kecepatan atau perilaku yang lebih dari yang sebelumnya ya," ujarnya.
Panik dan sebar foto editan AI
Lebih lanjut, polisi menduga pelaku penyiraman air keras sengaja menyebarkan foto hasil hasil editan AI (artificial intelligence) ke media sosial. Ini dilakukan karena para pelaku mulai panik usai rekaman video CCTV sudah beredar si media sosial.
"Pelaku dan jaringannya mulai terlihat panik dan berupaya mengaburkan proses penyelidikan dengan mengedarkan gambar atau rekayasa AI," ucap Iman.
Ia menyebut sindikat tersebut kemudian menyebarkan foto hasil editan AI untuk mempengaruhi sentimen publik dan mengubah foto pelaku asli penyiraman air keras.
"Dapat kami pastikan foto tersebut adalah hoax, karena itu hasil rekayasa AI. Kami duga ini adalah salah satu upaya jaringan dan pelaku sendiri untuk mengaburkan informasi untuk mengaburkan arah fakta hukum yang diperoleh," tuturnya.
Kondisi terbaru Andrie Yunus
RSUP Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengungkap Andrie Yunus sudah stabil, tidak dalam kondisi yang mengancam jiwa setelah menjalani serangkaian tindakan medis pasca-disiram air keras.
"Saat ini, kondisi umum pasien sudah stabil dan tidak dalam kondisi yang mengancam jiwa. Penanganan medis akan terus dilakukan secara bertahap sesuai dengan perkembangan kondisi pasien, termasuk kemungkinan tindakan rekonstruksi jaringan dan prosedur lanjutan untuk membantu mengoptimalkan pemulihan fungsi penglihatan," dikutip dari keterangan pers RSCM, Senin malam.
Andrie mengalami luka bakar akibat paparan cairan kimia pada area wajah dan beberapa bagian tubuh. Andrie datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSCM pada Jumat (13/03) dini hari sekitar pukul 12 malam, dengan keluhan luka bakar pada wajah, leher, dada, punggung, serta kedua lengan, disertai gangguan penglihatan pada mata kanan.
Setibanya di IGD, tim medis langsung melakukan pemeriksaan awal dan tindakan stabilisasi.
Pemeriksaan menggunakan indikator pH menunjukkan adanya paparan zat kimia bersifat asam pada area luka.
Sebagai penanganan awal, tim medis melakukan irigasi atau pencucian pada area yang terpapar untuk menurunkan efek zat kimia serta menormalkan kondisi jaringan.
"Hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa pasien mengalami luka bakar sekitar 20 persen pada area tubuh serta trauma kimia pada mata kanan dengan derajat keparahan tingkat tiga pada fase akut. Kondisi tersebut menyebabkan penurunan tajam penglihatan serta kerusakan pada permukaan kornea," ungkapnya.
Untuk menangani kondisi tersebut, Andrie menjalani tindakan pembersihan jaringan yang rusak pada mata kanan serta transplantasi membran amnion guna melindungi permukaan mata dan mendukung proses penyembuhan.
Selanjutnya, Andrie dirawat di High Care Unit (HCU) luka bakar untuk mendapatkan pemantauan dan perawatan lebih lanjut secara komprehensif oleh tim medis multidisiplin yang terdiri dari dokter spesialis mata, dokter bedah plastik rekonstruksi, serta tim medis kegawatdaruratan.
"Terapi yang diberikan meliputi perawatan luka, pemberian antibiotik, obat anti-inflamasi, vitamin, serta pengobatan untuk menjaga tekanan bola mata tetap terkontrol," terang RSCM.
(dis/isn)
Add
as a preferred source on Google

17 hours ago
2



























