BRIN Temukan 2 Spesies Ngengat Baru, Diberi Nama Sutrisno dan Ubaidillah

3 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi dua spesies ngengat baru endemik Indonesia dari genus Glyphodella dan Chabulina, yaitu Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 dan Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026.

Nama tersebut diberikan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh dua peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, yakni Hari Sutrisno dan Rosichon Ubaidillah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam publikasi ilmiahnya, para peneliti melaporkan bahwa Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 menjadi satu-satunya spesies dari genus Glyphodella yang tercatat di Indonesia. Spesies ini bersifat endemik Papua dan ditemukan di kawasan Pegunungan Foja.

Sementara, Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 merupakan spesies endemik baru asal Sulawesi. Spesies ini ditemukan di sejumlah wilayah, yakni Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara.

Menurut Rosichon Ubaidillah, kedua spesies tersebut memiliki ciri morfologi yang khas, terutama pada pola sayap serta struktur genitalia yang menjadi karakter penting dalam identifikasi ngengat.

"Glyphodella fojaensis memiliki ciri berupa bercak kuning berbentuk bulat pada sayap depan, serta struktur genitalia jantan yang berbeda dari spesies kerabatnya. Sementara Chabulina celebesensis dapat dikenali dari pola garis pada sayap dan bentuk genitalia yang khas," ujar Rosichon, melansir laman BRIN, Selasa (3/3).

Perbedaan karakter morfologi tersebut menjadi dasar utama penetapan keduanya sebagai spesies baru dalam ilmu pengetahuan.

"Karakter morfologi ini menunjukkan adanya keunikan evolusi dan adaptasi pada masing-masing habitat, baik di Papua maupun Sulawesi," ungkapnya.

Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan perangkap cahaya untuk mengumpulkan spesimen, yang kemudian diamati secara rinci menggunakan mikroskop.

Seluruh spesimen yang diperoleh selanjutnya disimpan dan didokumentasikan di Museum Zoologicum Bogoriense sebagai bagian dari koleksi nasional.

Berdasarkan hasil penelitian, Glyphodella fojaensis hidup di hutan tropis primer di kawasan Pegunungan Foja, Papua. Sementara itu, Chabulina celebesensis ditemukan di hutan sekunder tropis di wilayah Sulawesi.

Kedua spesies tersebut bersifat nokturnal, yakni aktif pada malam hari.

Penemuan ini menambah catatan keanekaragaman serangga di Indonesia, khususnya dari kelompok ngengat famili Crambidae. Temuan tersebut juga semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia.

Para peneliti menilai bahwa spesies endemik yang hanya ditemukan di wilayah terbatas memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap perubahan lingkungan, seperti deforestasi maupun degradasi habitat.

"Oleh karena itu, diperlukan upaya perlindungan ekosistem hutan di Papua dan Sulawesi agar spesies-spesies endemik ini dapat terus lestari," jelas Rosichon.

Tim peneliti BRIN juga berencana melanjutkan eksplorasi serta kajian biodiversitas serangga di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari upaya pendataan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.

(wpj/dmi)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial