Bakal Ada Penerbangan Terpanjang di Dunia, 22 Jam Tanpa Transit

6 hours ago 1

CNN Indonesia

Minggu, 26 Apr 2026 05:00 WIB

Maskapai Australia, Qantas, menargetkan penerbangan nonstop Sydney-London sepanjang 22 jam tanpa transit. Ilustrasi. Maskapai Australia, Qantas, menargetkan penerbangan nonstop Sydney-London sepanjang 22 jam tanpa transit. (Ross Parmly via Unsplash)

Jakarta, CNN Indonesia --

Terbang belasan jam saja sudah cukup membuat badan pegal. Tapi, bagaimana rasanya berada di pesawat selama sekitar 22 jam tanpa transit?

Rencana itu kini semakin dekat jadi kenyataan. Maskapai Australia, Qantas, menargetkan penerbangan nonstop Sydney-London mulai beroperasi pada paruh pertama 2027. Jika berjalan sesuai rencana, rute ini akan menjadi salah satu penerbangan penumpang nonstop terpanjang di dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir laman resmi Qantas, pesawat pertama Airbus A350 untuk Project Sunrise dijadwalkan dikirim pada akhir 2026. Pesawat itu nantinya akan digunakan untuk melayani penerbangan Sydney-London dan Sydney-New York.

Project Sunrise sendiri merupakan ambisi Qantas untuk menghubungkan Australia dengan sejumlah kota besar dunia tanpa perlu transit. Rute Sydney-London diperkirakan menempuh jarak sekitar 17 ribu kilometer dengan durasi penerbangan lebih dari 20 jam.

Rencana ini sebenarnya sudah diperkenalkan Qantas sejak beberapa tahun lalu. Namun, peluncurannya sempat tertunda karena berbagai tantangan teknis, termasuk pengembangan pesawat yang mampu menempuh jarak sangat jauh, serta dampak pandemi Covid-19 terhadap industri penerbangan.

Dalam rilis resminya pada November 2025, Qantas menyebut pesawat Project Sunrise pertamanya sudah mulai masuk jalur perakitan Airbus di Toulouse, Prancis. Langkah ini disebut sebagai tonggak penting menuju penerbangan nonstop bersejarah antara Australia dan London serta New York.

Bagi penumpang, tantangan terbesar tentu bukan hanya jarak, tetapi juga kenyamanan selama hampir satu hari penuh di udara.

Karena itu, Qantas menyiapkan Airbus A350-1000ULR atau ultra long range dengan konfigurasi khusus. Pesawat ini dirancang untuk penerbangan jarak sangat jauh, dengan kabin yang dibuat lebih lega dan sejumlah fitur untuk membantu mengurangi kelelahan selama perjalanan.

Mengutip Daily Mail, dengan durasi penerbangan selama 22 jam, pengalaman terbang tentu akan berbeda dari penerbangan internasional biasa.

Qantas juga sebelumnya menyebut akan menghadirkan area khusus di dalam kabin untuk peregangan, minum, dan bergerak ringan. Fitur seperti pencahayaan kabin, pengaturan waktu makan, hingga desain kursi juga menjadi bagian dari upaya mengurangi jet lag.

Meski terdengar melelahkan, rute nonstop seperti ini bisa menarik bagi penumpang yang ingin menghindari transit panjang.

Selama ini, perjalanan dari Australia ke Inggris biasanya membutuhkan satu kali pemberhentian, misalnya di Singapura, Dubai, Doha, atau Perth.

Jika Project Sunrise berjalan sesuai rencana, perjalanan Sydney London akan menjadi pengalaman baru dalam dunia penerbangan: lebih panjang di udara, tetapi lebih ringkas dari sisi perjalanan keseluruhan.

(anm/asr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial