Ancaman Gempa Besar 'Teror' Bandung Raya, Sesar Lembang Masih Aktif

3 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Aktivitas tektonik di jalur Sesar Lembang kembali menjadi sorotan setelah pemantauan mikro-gempa terbaru menunjukkan bahwa patahan tersebut masih aktif. Temuan ini memperkuat kekhawatiran terhadap potensi ancaman gempa bagi wilayah Bandung Raya.

Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan Badan Geologi, puluhan hingga ratusan gempa sangat kecil atau micro-earthquake tercatat dalam periode pemantauan sekitar satu bulan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian besar kejadian tersebut memiliki kedalaman kurang dari 10 kilometer, yang menunjukkan aktivitas terjadi di lapisan kerak Bumi yang relatif dangkal.

Peneliti geofisika Badan Geologi Hidayat menjelaskan, pola kejadian gempa kecil itu memberikan gambaran penting mengenai dinamika tektonik di bawah permukaan.

"Dari pemantauan sekitar 121 kejadian mikro-gempa, terlihat sebaran hiposenter mengikuti jalur sesar. Ini memperkuat interpretasi bahwa struktur ini memang aktif," ujarnya dalam webinar, Kamis (26/2).

Meski tidak dirasakan oleh masyarakat karena magnitudonya sangat kecil, mikro-gempa tersebut memiliki nilai ilmiah penting. Data tersebut membantu para peneliti memetakan bentuk dan geometri sesar, sekaligus memahami distribusi tegangan di bawah permukaan Bumi.

Hasil pemantauan juga memperlihatkan karakteristik yang berbeda pada tiap segmen patahan. Pada segmen timur, struktur sesar cenderung miring ke arah utara di dekat permukaan. Sementara itu, segmen tengah menunjukkan struktur yang relatif tegak.

Segmen barat memperlihatkan struktur yang lebih kompleks di kedalaman. Kondisi ini diduga berkaitan dengan sistem sesar regional yang lebih luas.

Aktivitas kegempaan di wilayah ini juga tercatat dalam katalog milik BMKG yang secara rutin memantau gempa tektonik di wilayah Jawa Barat.

Potensi gempa hingga magnitudo 6,5

Dengan indikasi aktivitas tersebut, Badan Geologi menegaskan pentingnya langkah mitigasi berbasis risiko di kawasan Bandung Raya. Pasalnya, jika seluruh segmen patahan bergerak secara bersamaan, Sesar Lembang diperkirakan berpotensi memicu gempa hingga magnitudo 6,5.

Pakar mitigasi gempa Badan Geologi Supartoyo menilai upaya pengurangan risiko harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berhenti pada identifikasi sesar aktif.

"Mitigasi bukan hanya soal mengetahui ada sesar aktif, tetapi memastikan bangunan dan masyarakatnya siap," ujarnya.

Upaya mitigasi gempa umumnya dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni mitigasi struktural dan non-struktural.

Mitigasi struktural berfokus pada penguatan fisik bangunan serta penataan ruang yang aman dari risiko gempa. Langkah ini meliputi penerapan standar bangunan tahan gempa, pemeriksaan struktur fasilitas penting seperti rumah sakit, sekolah, dan jembatan, hingga penyesuaian tata ruang yang merujuk pada peta bahaya sesar aktif.

Supartoyo mencontohkan pengalaman dari Gempa Cianjur 2022 berkekuatan magnitudo 5,6 yang menyebabkan kerusakan luas. Ia menilai besarnya dampak gempa kerap dipengaruhi oleh kualitas bangunan yang tidak memenuhi standar ketahanan.

Menurutnya, gempa dengan kekuatan menengah sekalipun dapat menimbulkan kerusakan signifikan apabila tingkat kerentanan bangunan di wilayah tersebut tinggi.

Sementara itu, mitigasi non-struktural lebih menekankan pada peningkatan kesiapsiagaan masyarakat. Selain penguatan infrastruktur, edukasi kebencanaan berbasis komunitas menjadi langkah penting agar masyarakat memahami potensi risiko dan mengetahui cara menyelamatkan diri saat gempa terjadi.

Simulasi evakuasi secara berkala di sekolah maupun perkantoran juga dinilai penting untuk melatih respons cepat ketika bencana terjadi.

Di tingkat daerah, penyusunan rencana kontinjensi menjadi bagian krusial agar penanganan darurat dapat berjalan secara terarah dan terkoordinasi.

Supartoyo menegaskan bahwa peningkatan literasi kebencanaan harus berjalan seiring dengan upaya mitigasi lainnya.

Hasil pemantauan mikro-gempa dan pemodelan tiga dimensi bawah permukaan kini juga digunakan sebagai dasar pembaruan peta bahaya gempa di sekitar Sesar Lembang.

Pemerintah daerah diharapkan dapat memasukkan temuan ilmiah tersebut dalam kebijakan pembangunan wilayah.

Dengan kepadatan penduduk serta banyaknya infrastruktur strategis di Bandung Raya, para peneliti mengingatkan bahwa kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa dari Sesar Lembang menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.

(wpj/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Koran | News | Luar negri | Bisnis Finansial